Timeline 1

Buku Pertama, Awal Mula.

Dewa Dewi muncul dan menciptakan bumi.

Ras tinggi Raksasa dan Garuda diciptakan, Raksasa untuk menduduki daratan dan Garuda untuk memenuhi angkasa, namun di lautan masih kosong, tiba-tiba jatuh dari langit seekor naga bernama Antaboga yang rendah hati, dia mengorbankan 1000 sayapnya agar dia tak bisa lagi terbang dan akan menjaga lautan yang kosong itu.

Dan dari dasar laut, Antaboga menciptakan seekor Kura-kura yang ukurannya sangat amat besar sampai menutupi seluruh bumi dengan tempurungnya, melindungi semua yang berada di dalamnya.

Makhluk makhluk lainnya pun diciptakan untuk melindungi bumi.

Setelah miliaran kali miliaran tahun berlalu, para Dewa Dewi memutuskan untuk istirahat dan meninggalkan bumi untuk 1 hari, mengambil hari libur mereka untuk membangun tempat bagi para makhluk yang telah dan akan mati yaitu, Mahasvarg, tempat yang merupakan surga tempat beristirahat seluruh makhluk.

Namun saat mereka kembali ke bumi, semua tampak berantakan dan hancur, Raksasa dan Garuda telah berperang, perang yang sangat besar yang memakan miliaran kali miliaran makhluk, semua terjadi hanya dalam sehari.

Sangat marah, Dewa Dewi memutuskan untuk mengutuk semua makhluk yang hidup di bumi, mereka pun menciptakan Neraka menggunakan semua mayat yang berada di bumi akibat perang, sehingga bumi yang merah dan ditutupi dengan darah itu seketika menjadi bersih dan cerah, seakan tak ada yang terjadi. Lalu Para Dewa Dewi pun mengirim semua Raksasa dan Garuda yang bertangan kotor, dan hanya mereka yang bertangan kotor untuk jatuh ke dalam neraka tersebut.

Saat itu pun para Dewa Dewi menarik semua berkah yang mereka berikan kepada bumi, semua yang hidup harus mencari dan bekerja untuk kehidupan mereka masing-masing, dan hanya mereka yang hidup dengan baik yang akan hidup bersama Dewa dan Dewi di Mahasvarg.

Setelah itu, para Dewa Dewi meninggalkan bumi.

---

Buku Kedua, Kuriositas Ganesa.

Setelah miliaran kali miliaran tahun, salah satu Dewa dari Mahasvarg turun ke bumi untuk melihat situasi disana.

Dia pun melihat semua yang berada disana masih sama seperti saat mereka terakhir kali datang, semua makhluk menangis, mereka semua tampak bersedih seperti baru kemarin ditelantarkan orang tua mereka, mereka mencari makanan dan bekerja siang dan malam hanya untuk hidup, setiap hari untuk seumur hidup mereka.

Ganesa pun merasa sangat bosan saat melihat keadaan bumi, sama sekali tidak ada perkembangan, dan tak akan pernah ada perkembangan, karena semua berkah telah dirampas, dan akan tetap seperti itu.

 Namun tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara asing, seperti teriakan para raksasa namun kecil, seperti juga kicauan Garuda namun juga kecil. Dia melihat makhluk asing yang tak pernah dia lihat sebelumnya, mereka mengelilingi suatu kobaran api yang juga kecil, sambil berbicara dengan bahasa mereka sendiri, Ganesa melihat ada yang tertawa, ada yang terlihat marah, ada yang menyendiri di sudut, ada yang menangis bersama temannya, ada juga yang menangis sendiri, ada yang makan dengan lahap, ada yang sedang sangat lapar dan sedih, namun ada juga yang sedang lapar tapi tampak bahagia, ada yang merasa jijik tapi setelah itu dia pun tertawa bersama yang lain, ada yang tertawa lalu setelah itu merasa jijik, emosi kian berganti, tanpa batasan, ada sesuatu yang aneh pada pemandangan tersebut dan Ganesa ingin mencari tahu.

Ganesa pun bertanya kepada sekelompok makhluk aneh itu "kalian ini siapa?", "namaku Ganesa" jawab salah satu dari mereka, Sang Dewa terkejut, di dalam pikirannya terlintas begitu banyak pertanyaan, tanpa pikir panjang Sang Dewa lalu berkata, "Aku juga Ganesa" lalu dengan senyum salah satu dari mereka pun berkata balik "berarti nama kita sama". Itulah kali pertama Ganesa merasakan sensasi dari sebuah perasaan yang baru, entah apapun itu, namun yang pasti dia merasa senang.

Ganesa lalu menamakan mereka "Manusia" dan memberikan berkahnya kepada mereka.

Namun Ganesa telah salah menilai, dan akibat dari kekuatan yang ia beri, manusia dengan cepat menjadi jahat dan memulai peperangan pada Raksasa dan Garuda.

---

Buku Ketiga, Surya dan Nazarata.

Setelah Mahasvarg mengetahui kembalinya kehancuran di bumi yang sebenarnya sudah hancur, Dewa Siang Surya dan Dewa Malam Nazarata turun untuk membantu Para Raksasa dan Garuda yang tak berkekuatan, Para Dewa mengasihani mereka karena sudah menjaga bumi selama milaran tahun walaupun telah dikutuk.

Surya dan Nazarata membantu mereka dengan memberi berkah kepada Raksasa dan Garuda, Nazarata memberi berkah pada Raksasa dan Surya memberi berkah kepada Garuda, mereka pun pergi untuk melawan manusia.

Tetapi pada akhirnya mereka tidak bisa melawan berkah Ilmu Pengetahuan yang diberikan Ganesa, kekuatan manusia dalam hal berpikir jauh lebih maju dan tak terkalahkan.

Setelah melihat keadaan yang tak terselamatkan, Surya dan Nazarata menjadi sedih, begitu pula Ganesa, lalu mereka bertiga pun meminta pertolongan kepada para Dewa Dewi lain.

---

Buku Keempat, Acintya dan para Dewa Perang.

Acintya merupakan Dewa Tertinggi di Mahasvarg, saat melihat keluh kesah Surya, Nazarata dan Ganesa, Maka Acintya menurunkan kedua Dewa Perang untuk membantu bumi.

diturunkanlah ke bumi Indra dan Krittika, Indra untuk Melawan Manusia dan Krittika untuk melawan Raksasa dan Garuda. Mereka pun harus berada di bumi untuk berperang, menjaga keseimbangan jumlah pasukan, bila Garuda dan Raksasa mulai habis, Indra akan mengurangi manusia, dan bila jumlah manusia mulai habis, Krittika akan mengurangi Raksasa dan Garuda.

---

Buku Terakhir, Berkah dan Kutuk.

Setelah miliaran kali miliaran tahun, perang di bumi tak kunjung usai.

Akhirnya salah satu dari Dewa Perang itu menjadi malas dan berhenti untuk berperang, hal itu membuat yang satunya lagi marah, Indra pun memutuskan untuk membunuh Krittika.

Namun semua telah dilihat Acintya, dia pun menyuruh mereka untuk berhenti dan membiarkan kondisi bumi menjadi seperti ini, tapi untuk yang terakhir kalinya, Acintya memberikan kutukan kepada bumi.

"Sekarang kondisi bumi sudah penuh dengan berkah yang berlimpah, tapi penuh juga dengan kutukan yang berlimpah. maka dari itu, mulai saat ini juga, di bumi, akan ada orang yang berhasil dan yang gagal, yang bahagia dan yang sedih, yang berkekuatan dan yang berkelemahan, takkan ada yang setara, Terberkati atau Terkutuk, hanya itu saja, inilah balasan dari semua yang telah kalian lakukan di bumi, hiduplah dalam kebimbangan, hiduplah dalam ketakutan akan keberuntungan."

---

Pertanyaan:

Kenapa Dewa Tertinggi tidak mengambil berkah dari para manusia? bukankah akan lebih cepat mengatasi peperangan?

jawaban: Tampaknya manusia bukanlah makhluk ciptaan mereka, maka dari itu berkah yang diberi tak bisa diambil kembali. karenanya para dewa memilih untuk menolong para raksasa dan garuda, yang berujung pada kegagalan, lalu di akhiri oleh Acintya memberikan kutukan untuk setidaknya menyeimbangkan bumi dari berkah yang berlimpah.


Komentar